Di era ketika pengelolaan kawasan perumahan semakin kompleks, istilah software developer perumahan dan aplikasi estate management mulai sering orang dengar. Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan teknologi untuk membantu pengelolaan properti, tetapi sebenarnya memiliki fokus yang berbeda.

Perbedaannya bukan sekadar pada nama aplikasi atau fitur yang tersedia. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut mampu menyelesaikan masalah pengelolaan perumahan. Mulai dari penagihan iuran, pendataan penghuni, pengelolaan fasilitas, hingga komunikasi antara pengelola dan warga.

Menariknya, software khusus untuk kebutuhan developer perumahan belum tentu sama dengan aplikasi estate management. Agar tidak salah memilih, berikut perbedaan software developer perumahan dan aplikasi estate management:

Mengulik Software Developer Perumahan

Memahami software developer perumahan bisa dalam dua konteks. Pertama, istilah ini dapat merujuk pada perusahaan atau tim pengembang perangkat lunak yang membuat sistem khusus untuk kebutuhan developer perumahan. Kedua, istilah tersebut juga sering untuk menyebut software yang perusahaan developer gunakan dalam mengelola proyek dan penjualan properti.

Fokus utamanya biasanya berada pada sisi bisnis developer. Sistem dapat berguna untuk mengelola data unit rumah, kavling, calon pembeli, proses booking, pembayaran, dokumen, hingga perkembangan proyek. Dengan demikian, software tersebut lebih dekat dengan kebutuhan developer ketika membangun dan menjual sebuah kawasan. Contohnya, developer dapat mengetahui unit mana yang sudah terjual, masih tersedia, sedang dalam proses pembayaran, atau memasuki tahap serah terima.

Apa Bedanya Dengan Aplikasi Estate Management?

Aplikasi estate management memiliki cakupan yang berbeda. Sistem ini lebih berorientasi pada pengelolaan kawasan setelah properti dihuni dan aktivitas komunitas mulai berjalan. Pengelola dapat menggunakannya untuk mengelola data penghuni, iuran lingkungan, fasilitas umum, pengaduan warga, keamanan, kendaraan, hingga berbagai kebutuhan operasional kawasan.

Dengan kata lain, jika software developer banyak berhubungan dengan proses "membangun dan menjual properti", estate management lebih banyak berhubungan dengan proses "mengelola kehidupan di dalam kawasan".

 Baca Juga: Cara Mengelola Beberapa Cluster dari Satu Dashboard Menjadi Lebih Praktis

Perbedaan Utama: Si Pengguna!

Yang umumnya menggunakan software developer perumahan adalah pihak internal developer. Pengguna sistem dapat terdiri dari tim marketing, sales, finance, administrasi, legal, hingga manajemen proyek.

Sementara itu, aplikasi estate management memiliki pengguna yang lebih beragam. Selain pengelola kawasan, sistem ini juga bisa berguna bagi penghuni, petugas keamanan, teknisi, petugas lapangan, bahkan vendor tertentu. Karena penggunanya berbeda, desain sistemnya pun ikut berbeda. Aplikasi estate management harus memikirkan pengalaman warga, bukan hanya kebutuhan administrasi pengelola.

 

Tujuan Penggunaan Beda Jalur

Software developer perumahan biasanya bertujuan untuk membantu developer mengelola bisnis properti secara lebih terstruktur. Beberapa kebutuhan yang dapat tertangani dengan menggunakan software ini antara lain:

  • Pendataan unit dan kavling.

  • Pengelolaan data calon pembeli.

  • Booking unit.

  • Administrasi penjualan.

  • Pemantauan pembayaran.

  • Pengelolaan dokumen.

  • Proses serah terima unit.

  • Laporan penjualan dan proyek.

Sementara itu, estate management lebih berorientasi pada keberlangsungan operasional kawasan.

Kebutuhannya dapat mencakup:

  • Pendataan penghuni.

  • Penagihan IPL atau iuran lingkungan.

  • Pembayaran tagihan secara digital.

  • Pengelolaan komplain.

  • Reservasi fasilitas.

  • Pendataan kendaraan.

  • Informasi dan pengumuman kawasan.

  • Pengelolaan keamanan.

  • Monitoring pekerjaan teknisi.

  • Komunikasi antara pengelola dan penghuni.

Perbedaan ini membuat satu sistem belum tentu dapat menggantikan sistem lainnya.

 

Beda Timeline Penggunaan

Salah satu cara sederhana memahami perbedaan software developer perumahan dan aplikasi estate management adalah dengan melihat perjalanan sebuah rumah. Sebelum orang akhirnya menghuni rumah baru, ada banyak pekerjaan yang harus developer lakukan. Mulai dari memasarkan dan menjual unit, mengurus administrasi, mengelola pembayaran, membangun rumah, dan melakukan serah terima.

Namun setelah penghuni masuk, muncul persoalan baru. Terkait pengelolaan lingkungan, laporan komplain, reservasi fasilitas, hingga pendataan kendaraan yang keluar masuk termasuk milik penghuni.  Karena itu, munculkan aplikasi estate management yang menjadi bukan sekadar "software developer versi lain". Fungsinya lebih panjang karena mengikuti siklus kehidupan kawasan setelah hunian mulai berjalan.

Objeknya Berbeda Data Pun Berbeda

Software developer cenderung berpusat pada data properti dan transaksi. Data pentingnya seperti nomor unit, tipe rumah, harga jual, status pembayaran, data pembeli, serta dokumen transaksi. Sementara aplikasi estate management memiliki pusat data yang lebih berorientasi pada kawasan dan penghuni. Satu unit rumah dapat memiliki informasi mengenai pemilik, penghuni, anggota keluarga, kendaraan, tagihan, riwayat pembayaran, laporan kerusakan, hingga aktivitas penggunaan fasilitas. Artinya, objek yang dikelola bukan hanya "rumah", tetapi ekosistem yang berada di dalam kawasan.

Kekuatan Fitur Komunikasi

Komunikasi menjadi salah satu aspek yang membuat estate management semakin berbeda dari software developer. Dalam pengelolaan kawasan, informasi harus bergerak dua arah. Pengelola dapat mengirim pengumuman mengenai jadwal pemadaman air, kegiatan lingkungan, pemeliharaan fasilitas, atau informasi keamanan. Sebaliknya, warga dapat menyampaikan keluhan, pertanyaan, maupun permintaan layanan. Pola seperti ini tidak menjadi kebutuhan utama dalam sistem penjualan properti. Karena itu, aplikasi estate management biasanya membutuhkan fitur komunikasi yang lebih kuat.

 

Ketika Keduanya Bergabung

Meski memiliki fokus berbeda, bukan berarti software developer dan estate management harus berdiri sendiri. Justru integrasi keduanya dapat menghasilkan pengelolaan kawasan yang lebih efisien.

Data penghuni yang awalnya tercatat pada sistem developer dapat terus lanjut ke sistem estate management setelah proses serah terima. Pengelola tidak perlu melakukan input ulang seluruh data. Contohnya, ketika seorang resmi menghuni sebuah rumah, informasi unit dan pemilik dapat menjadi dasar untuk membuat akun penghuni pada aplikasi estate management. Dari sini, proses pengelolaan dapat berlanjut secara lebih otomatis.

Jadi kesimpulannya, perbedaan software developer perumahan dan aplikasi estate management terletak pada fokus dan fase pengelolaannya. Jika software developer bagaikan sistem yang membantu "menyiapkan dan menjual rumah", maka estate management adalah sistem yang membantu "menjalankan kawasan setelah rumah tersebut terhuni".

    ZERRA LIVIN
Masa Depan Hunian Mulai dari Sini
Admin: +62 811 3509 066
Intagram @myzerra.id
Linkedin Zerra Technologies Zerra Technologies | LinkedIn